Rabu, 08 Agustus 2007

Hari Ketujuh - 7 Area Keseimbangan Hidup

Hari Ketujuh
KELUARGA



Memiliki keluarga yang bahagia, harmonis, dan bersatu, saya yakin, adalah impian setiap pasangan suami-istri, setiap orang tua, dan setiap anak.

Untuk membentuk keluarga idaman tersebut tentu tidak terlepas dari peran serta semua yang terlibat di dalamnya : peran serta ayah, peran serta ibu, maupun peran serta anak-anaknya.

Berikut ini adalah beberapa tips yang ingin saya sharing-kan yang saya peroleh lewat pengalaman hidup saya :

1. Memberikan contoh panutan sebagai pemimpin agar diikuti oleh keluarga anda.

Coba Anda bayangkan jika seorang ayah tidak memberikan contoh yang baik kepada istri dan anak-anaknya : pulang larut malam, mabuk-mabukan, berjudi, pengangguran, maka dia akan membentuk suatu pola di mana istri dan anaknya tidak akan respek terhadap dia.

Ayah saya meminta saya untuk tidak merokok. Saya bisa menerima dan mengikuti perkataan tersebut karena beliau walaupun bisa tetapi memilih untuk tidak merokok meski ditawarin oleh teman-temannya. Ini membentuk suatu pola kebiasaan bagi diri saya bahwa merokok itu tidak sehat, karena saya mencontoh kepada kebiasaan ayah saya.

Sejak SD saya rajin ke gereja dan aktif di perkumpulan muda-mudi gereja. Adik saya mencontoh kebiasaan saya dan ini merupakan contoh nyata yang positif dalam proses pengembangan dirinya.

Contoh yang positif sangat diperlukan dalam proses pengembangan diri sang anak. Jika anak melakukan kesalahan tetapi tidak pernah diajarkan cara untuk melakukan secara benar, malah selalu diteriakin atau diomelin : bego kamu, dasar anak nakal, anak siapa sih kamu, dsb nya maka perlahan-lahan ini akan membentuk karakter anak seperti yang sering diucapkan, menjadi pesimis, rendah diri, tidak berguna, bandel, susah diatur, dsb nya.

2. Melakukan rapat keluarga secara berkala untuk mendiskusikan masalah, jalan keluar, dan sasaran/target

Ayah dan ibu saya tidak pernah melakukan rapat secara formal tetapi pada saat makan malam bersama ataupun pada saat rekreasi bersama, mereka suka memberitahukan target mereka apa dan bagaimana cara mencapainya. Misalkan : “Ayah mau membeli rumah di tepi pantai. Kira-kira menurut Putera bagaimana? Atau lebih baik Ayah investasikan uangnya untuk membeli barang sehingga stok ayah di toko lebih lengkap?”

Ini membuat saya sebagai anak merasa dihargai, merasa dibutuhkan karena setiap rencana atau target mereka disosialisasikan kepada kami anak-anaknya. Dengan demikian jika ada masalah di kemudian hari karena pengambilan keputusan tersebut, saya dan adik saya suka mencarikan jalan keluarnya bersama-sama. Bukankah dua kepala lebih baik daripada satu? 

3. Investasikan lebih banyak waktu untuk bersama yang berkualitas

Bukan dari seringnya bertemu tetapi dari kualitas pertemuan tersebut. Sejak SMA, saya sudah disekolahkan ke Yogyakarta. Otomatis pertemuan saya dengan orang tua hanya bisa setahun 2x, pada saat libur Natal dan kenaikan kelas. Tetapi dari pertemuan yang hanya sebentar tersebut, kami merasakan suasana yang lebih akrab dan berkualitas. Ayah jadi lebih banyak bercerita, lebih banyak bercanda dibanding waktu dulu kami serumah (sampai SMP).

Waktu masih SMP dulu, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman, makan malam jarang di rumah tetapi semenjak jarang bertemu kami menjadi lebih akrab. Makan malam pun kami tunggu sampai ayah pulang kantor baru kami makan bersama-sama. Oh senangnya masa kecil 

4. Saling memberikan semangat di dalam keluarga dengan memberikan pujian dan penghargaan

Seorang ayah paling susah memuji anaknya. Mungkin tidak semua. Tapi ayah saya termasuk tipe yang paling susah memuji anaknya. Tetapi satu hal yang membuat saya merasa bahwa beliau memuji dan menghargai saya walaupun tidak diucapkan adalah : beliau jarang melarang keputusan-keputusan yang saya buat. Terkadang memang beliau masih memberikan masukan-masukan. Bagi saya, itu artinya ayah saya percaya bahwa saya akan memutuskan sesuatu secara bijak.

5. Mengenal lebih dekat dengan keluarga

Saya mengenal hampir semua teman-teman adik saya. Dengan demikian saya tidak perlu kuatir jika suatu saat saya tidak bisa menghubungi adik saya karena handphone nya low bat, dsb nya. Saya bisa menghubungi teman-temannya tersebut.

Kebanyakan daripada kita merasa cuek saja terhadap saudara, orang tua, keluarga kita. Sehingga jangan kaget jika tiba-tiba misalkan anak kita menjadi ikut-ikutan nakal, hamil di luar nikah, dsb nya karena kita tidak pernah punya waktu terhadap mereka.

Saya suka meluangkan waktu sebelum tidur, ngobrol-ngobrol sebentar sekitar 15 menit dengan adik saya sekedar menanyakan kabar setelah kerja seharian, ada masalah dengan pacarnya, atau hal-hal kecil lainnya. Ini membuat adik saya menjadi lebih komunikatif dan terbuka terhadap saya.


Selamat mencoba! Dan Sukses selalu untuk Anda!

Tidak ada komentar: